Sabtu, 10 Maret 2018

Siapa Diriku Sebenarnya?

SIAPA DIRIKU SEBENARNYA?!


     Baru saja mati lampu.
    Aku mendengarnya memang dari seorang wanita tua tukang sapu jalanan yang sering menatapku ketika aku berangkat dan pulang sekolah. ia tadi menggosip bersama beberapa babu didekat pohon tua disamping lapangan, jika ada pemadaman listrik bergilir.
    Udara malam yang cukup dingin, suara sepi, dan gelap gulita, membuatku enggan bangun dari tempat tidur empuk yang ayah belikan sebelum kematiannya, tiga tahun lalu. Ayahku atau ayahnya mati, karena kecelakaan mobil, dia bodoh memang, aku sudah bilang bahwa rem dirusaknya, tapi ayah menganggap aku hanya bercanda, ayah pikir setiap apa yang aku katakan hanyalah guyonan. aku benci membual. tak apa, sekarang ayah bisa percaya kata-kataku, tapi sayang mayatnya masih disana, dibawah tempat tidurnya. dia mengambil mayat ayah, menggalinya, padahal tanah pemakaman masih basah merah, dengan guyuran air mawar. aku juga benci mawar.
   Sementara ibu. Oh, maksudmu wanita yang berdiri didekat jendela dengan tatapan mata kosong kearahku, dengan rambut pendek sebatas pundak yang beberapa waktu dipotongnya. Ibu suka rambut itu, sedikit segar. ibu menyukainya, tapi aku dan dirinya tidak. Ibu mirip wanita jalanan yang aku temui beberapa kali ketika jam menunjukkan pukul satu malam.
   Aku akan mengganti posisi ibu besok. Akan sangat membosankan jika ibu terus menatap dengan gaya begitu. Itu sudah terjadi sejak sebulan lalu. padahal aku hanya melakban mulutnya, akibat ibu begitu cerewet setiap malam mengigau memanggil nama ayah, tapi ternyata dia juga bangun. Dia sepertiku, mungkin bosan dengan teriakan ibu, akibatnya dia hanya mengambil tongkat bisbol untuk membuat ibu tenang. Aku dan dia bisa kembali tidur dengan nyenyak.
   Tapi dia bodoh. kenapa harus ibu yang ditaruhnya dikamarku? Kenapa bukan ayah? aku suka lihat baju ayah yang sedikit kotor. wajahnya kadang kulihat masih menggemaskan, mungkin efek dari pengawet yang diberikan perias. Padahal aku meminta perias untuk memberikannya lebih banyak. kan ayah bisa tahan lama dibawah kasurnya.
   Aku harus tidur malam ini. Tapi, sangat sulit. Aku mulai berjalan keluar kamar. Aku ingin mengajaknya main lempar pisau seperti biasanya, mungkin itu bisa membuatku sedikit mimpi indah. Baru sampai dianak tangga pertama, aku sudah merasakannya. Darah lagi. dia pasti bermain operasi bedah dengan wendy (itu anjing kami). 
   Kemarin dia mengatakan bahwa usus Wendy terlalu panjang, maka dari itu dia sedikit memotongnya dan menjahitnya kembali. sebelumnya dia sengaja membersihkan mata Wendy dengan sabun, itu menurutku cukup membantu. si anjing itu sekarang tak kebingungan atau mata minusnya sudah pulih untuk mencari mangkok makannya. 
   Tapi bukan. Ini bukan darah wendy, aku mengenal darah anjing sialan itu. Darah ini sedikit cair dan anyir. bukankah darah ayah, ibu, dan wanita tua tukang sapu jalanan juga begitu. Wanita itu? Dia membuatku mual setiap dia menatapku. tapi sekarang dia tidak bisa lagi melakukannya, aku menjamunya dengan segelas teh sedikit kucampur arsenik. Payah, baru beberapa teguk dia mengejang. Aku buang wanita tua itu dirumah belakang, banyak anjing disana.
   "Sebentar, aku akan melakukannya dengan pelan." Kudengar suaranya. Dia seperti berbicara dengan seseorang. sepertinya.
   Saat kakiku sudah sampai dilantai, aku melihatnya menempelkan seseorang dibawah kompor listrik. Ah, dia berulah lagi. 
   "Adekku, kita baru saja bermian beberapa lempar pisau. tapi kami salah sih, kenapa tidak menghindar. Kan jadi ini bukan urusanku lagi." katanya lagi.
   Sial. Dia bermain dengan mayatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar